Jumat, 13 Oktober 2017

Menganalisa Bakat Atlet



Di zaman serba canggih ini telah banyak negara membicarakan sport science, dimana dengan menerapkan berbagai disiplin ilmu seperti fisiologis, psikologis, kedokteran olahraga, biomekanika, nutrisi, dan lainnya yang saling mendukung secara harmonis untuk menjadikan atlet yang tanggung demi tercapainya prestasi tertinggi.

Dengan adanya sport science tentu akan lebih mudah untuk mengarahkan seseorang yang memiliki bakat pada cabang olahraga tertentu karena faktor genetik, kondisi fisik dan lingkungan setiap individu telah di analisa dengan baik oleh ahlinya masing-masing.

Bicara bakat, pada tulisan kali ini saya akan mencoba menganalisa dalam sudut pandang genetik yang terlihat dari postur tubuh seseorang, lalu kondisi fisik yang bisa diketahui melalui serabut otot dan lingkungan tempat seseorang itu tinggal.

     1.     Faktor Genetik
Masing-masing orang memiliki ciri khasnya sendiri, apalagi bicara tentang masalah postur tubuh yang tentu saja hal ini dipengaruhi oleh faktor genetik dari keturunan. Secara umum postur tubuh terbagi menjadi 3 tipe, yaitu Ektomorf, Endomorf dan Mesomorf.



A.      Ektomorf  
1.      Bertubuh tinggi dan terlihat kurus
2.      Berleher ramping dan panjang
3.      Pergelangan kaki dan tangan kecil
4.      Cenderung memiliki kadar lemak tubuh yang rendah
5.      Sulit mengembangkan massa otot
6.      Metabolisme cepat

B.      Endomorf
1.      Berbadan besar dan terlihat gemuk
2.      Besar pada bagian paha, pinggang dan perut
3.      Memiliki tulang besar
4.      Bentuk wajah bulat
5.      Cenderung memiliki lengan dan tungkai kaki yang pendek
6.      Cenderung memiliki kadar lemak yang tinggi
7.      Tubuhnya lebih mudah dibentuk menjadi otot
8.      Metabolisme lambat

C.      Mesomorf
1.      Bertubuh atletis dan terlihat proporsional
2.      Cenderung berotot walau belum terlatih
3.      Bertulang besar
4.      Berbahu lebar
5.      Berpinggang sempit
6.      Metabolisme cepat

      2.      Kondisi Fisik: Serabut Otot

Setelah kita menganalisa dari segi postur tubuh, untuk lebih mempertajam proses pengarahan atlet pada cabang olahraga yang tepat, kita dapat membagi berdasarkan karakteristik fisiologis dasar dari sistem energi dominan yang dikuasai atlet tersebut, apakah cenderung pada cabang olahraga aerobic atau anaerobic.

Cara yang paling sering dilakukan oleh ahli dengan melihat serabut otot yang dimiliki atlet tersebut dengan proses biopsi atau dengan mencungkil sebagian kecil jaringan otot untuk mengetahui tipe serabut otot. Secara umum ahli fisiologis membagi serabut otot menjadi satu serabut lambat (slow fiber) dan dua serabut cepat (fast fiber).

A.     Serabut Lambat (Slow fiber) 
1.   Type I,  serabut otot ini disebut  juga sebagai Slow-twitch fiber/Slow Oxidative (SO). Dapat disimpulkan dari namanya, otot ini memiliki oksidatif tinggi dan tahan lelah, berkontraksi dengan rileks dan perlahan.
B.     Serabut Cepat (Fast Fiber)
1.       Type IIa, serabut otot ini disebut juga Fast Oxidative Glycolityc (FOG)
2.       Type Iix, serabut ini disebut juga Fast Glycolytic (FG)
Kedua jenis serabut otot tersebut besar dan kuat, dengan kemampuan metabolisme anaerobic sedang sampai tinggi.  Perbedaan utama antara keduanya adalah serat FOG memiliki kapasitas oksidatif dan anaerobic moderat (sedang) yang memberikan type IIa lebih tahan lelah dibandingkan dengan FG yang murni anaerobic dan mudah lelah.

Karena biopsi tergolong sulit dilakukan dilapangan apalagi proses ini perlu pendampingan secara benar dan tepat dari para ahli, biasanya proses lain dilakukan dengan test koomponen kondisi fisik dimana test tersebut bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan keterampilan yang paling dominan dikuasai oleh masing-masing individu.

3.         Lingkungan
Bakat atlet baik secara fisik maupun mental akan terbentuk dari lingkungan dimana dia tinggal, selain faktor genetik dan serabut otot. Pengaruh dari kondisi suatu daerah dan orang-orang disekeliling atlet tersebut juga dapat dijadikan sebagai data.

                         A.   Kondisi Daerah
1.     Ketinggian        
Semakin tinggi suatu daerah maka semakin tipis oksigen. Orang yang hidup pada ketinggian memiliki sistem cardiovascular lebih baik karena dalam menjalankan hidup sehari-harinya sudah terlatih dengan kondisi oksigen yang tipis. Maka ada istilah bagi atlet-atlet daya tahan yaitu “living high, training low.”
2.     Berbukit                        
Kondisi derah yang berbukit terkadang menyulitkan transportasi mesin untuk mencapai daerah tersebut sehingga kebanyakan orang-orang perlu berjalan terlebih dulu melewati bukit-bukit yang kadang terjal untuk mencapai kendaraan, sehingga dengan alamiah otot-otot terlatih dan menjadi semakin kuat.
3.     Banyak Kegiatan Olahraga
Kondisi daerah yang sangat mendukung masyarakatnya untuk menjadikan olahraga sebagai gaya hidup dan tolak ukur prestasi dengan banyak mengadakan kegiatan-kegiatan olahraga akan lebih mudah menyaring atlet-atlet berbakat.

B.    Orang – Orang Sekitar

Faktor eksternal seperti lingkungan masyarakat yang keras atau penuh tatakrama sangat berpengaruh pada mental atlet, hal ini dimulai dari pengaruh keluarga, tetangga, dan orang-orang lain disekitarnya. Misalkan, fighter biasanya berasal dari kehidupan lingkungan yang keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar